Wednesday, May 18, 2016

Wednesday, May 18, 2016

PHOENIX, KOMPAS.com - Satu dari empat penumpang pesawat terbang ternyata rela tidak duduk di kelas Bisnis atau First Class yang lebih lega dan nyaman, dengan segala kemewahannya, demi mendapatkan koneksi Wi-Fi di pesawat. Mereka lebih memilih untuk duduk di kelas Ekonomi.



Layanan Wifi Dalam Kabin Pesawat Terus Dikembangkan
Logo WiFi onboard di pintu pesawat, menandakan kabin pesawat tersebut dilengkapi dengan koneksi internet nirkabel.

Lho, memangnya kelas Ekonomi saja di pesawat yang mendapat koneksi WiFi? Kelas Bisnis dan First Class tidak ada?

Begini penjelasannya, kursi kelas Bisnis dan First Class itu lebih mahal dibanding kelas Ekonomi. Nah, uang untuk membeli kursi di kelas Bisnis atau First Class itu menurut mereka lebih baik dipakai untuk membeli kursi di kelas Ekonomi saja yang lebih murah, sementara sisanya dipakai untuk membayar koneksi Wi-Fi di pesawat.

Fakta tersebut terungkap dari survei yang dilakukan oleh Honeywell Aerospace, perusahaan penyedia solusi dan teknologi penerbangan asal AS kepada sekitar 3.000 responden dewasa di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura yang menggunakan fasilitas WiFi di pesawat dalam kurun satu tahun.

"Mereka rela menggadaikan kursi kelas bisnis demi mendapat koneksi Wi-Fi yang kencang di pesawat," ujar Carl Esposito, VP of Strategy, Marketing and Product Management di Honeywell Aerospace saat berbincang dengan KompasTekno di acara jumpa media di markas Honeywell di Phoenix, Arizona, AS, Selasa (10/5/2016) lalu.


Carl Esposito, VP of Strategy, Marketing and Product Management di Honeywell Aerospace dalam pemaparannya tentang "connected aircraft" di markas Honeywell di Phoenix, Arizona, Selasa (10/5/2016) .

Layanan in-flight connectivity atau internet di pesawat memang mulai marak pada awal 2010 lalu. Berbagai maskapai di dunia sudah mulai menyediakannya sebagai layanan tambahan. Bahkan, mayoritas maskapai di AS sudah mengadopsinya sejak tiga hingga lima tahun terakhir.

Di Indonesia, baru di beberapa pesawat A330 dan B777 milik maskapai Garuda Indonesia yang menyediakan layanan internet di pesawat ini. (Baca: Layanan WiFi di Garuda Seharga Rp 130.000 Per Jam

Maskapai Malaysia Air Asia juga sudah memberikan fasilitas tersebut di beberapa pesawatnya.
(Baca: AirAsia Uji Internet WiFi, Penumpang Indonesia Kebagian

Karena masih tergolong teknologi baru, maka tak heran jika masih banyak kekurangan dalam layanannya. Lalu keluhan apa yang paling sering dilontarkan oleh penumpang terkait layanan internet di pesawat ini?

Dari survei yang dilakukan oleh Honeywell Aerospace, ternyata seperempat responden mengeluhkan kecepatan koneksi internet yang lambat. Sementara keluhan terbesar kedua lainnya adalah koneksi yang sering putus-nyambung. Satu dari enam penumpang mengeluhkan akan hal itu.

Peluang bisnis Rp 37 triliun

Honeywell Aerospace sendiri melihat pasar in-flight connectivity sebagai peluang bisnis baru untuk 20 tahun ke depan, bukan hanya bagi Honeywell Aerospace sendiri, melainkan juga bagi maskapai-maskapai penerbangan di seluruh dunia.

Honeywell memperkirakan nilai bisnis dari solusi internet di pesawat ini, yang meliputi hardware, layanan konsumen, pemeliharaan pesawat maskapai, serta bagi OEM (original equipment manufacturer) bakal mencapai 2,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 37 triliun).


JetWave, hardware penghubung antara pesawat dengan jaringan internet buatan Honeywell yang terpasang di pesawat uji B757 Honywell.

Untuk itu, Honeywell Aerospace telah menandatangani kerja sama dengan perusahaan penyedia layanan satelit asal Inggris, Inmarsat pada 2012 lalu untuk menyediakan solusi layanan internet di pesawat.

Honeywell Aerospace menyediakan hardware penyedia koneksi internet yang diberi nama JetWave yang bakal menggunakan jaringan konstelasi satelit milik Inmarsat, yaitu Global Xpress (GX constellation).

Konstelasi GX Inmarsat terdiri atas tiga satelit yang menggunakan standar jaringan broadband kecepatan tinggi, Ka-Band. 

Satelit ke-empat milik Inmarsat saat ini sedang dibangun dan diuji coba oleh pabrikan Boeing di California, dan dijadwalkan meluncur pada semester kedua 2016 ini.

Ka-Band jadi standar pilihan

Dijelaskan oleh Esposito, mengapa Honeywell mengusung standar teknologi Ka-Band untuk hardware-nya, karena standar ini diklaim mampu menghadirkan pengalaman internet yang lebih lancar.

"Dengan Ku-Band, pengalamannya tidak konsisten karena (hardware) harus switch antar satelit," kata Esposito.

Ia menganalogikan standar Ku-Band dengan ponsel yang harus selalu terhubung dengan Wi-Fi dalam penggunaan sehari-hari. Jika pindah dari satu lokasi ke lokasi lain, maka ponsel harus login ke jaringan Wi-Fi lain, itulah yang terjadi pada standar Ku-Band.

Sementara untuk standar Ka-Band, Esposito menjelaskan pengalamannya seperti menggunakan internet di ponsel dengan jaringan mobile. Selama ada jangkauannya, ponsel akan selalu tetap terhubung tanpa harus login ulang.

Jaringan Global Xpress milik Inmarsat dipadukan dengan JetWave milik Honeywell dijanjikan memberikan kecepatan internet tinggi hingga 50 Mbps di dalam kabin pesawat.

Sertifikasi FAA

Hardware JetWave sebagai penyedia layanan internet di pesawat buatan Honeywell Aerospace itu telah mendapatkan sertifikasi dari FAA (Federal Aviation Administration) pada awal 2016 lalu, setelah melalui pengujian selama 180 jam terbang dengan pesawat uji B757 milik Honeywell.


Layanan Wifi Dalam Kabin Pesawat Terus Dikembangkan
Antena penghubung pesawat dengan satelit Inmarsat dipasang di punggung pesawat.

Menurut FAA, JetWave tetap bisa terhubung dengan konstelasi satelit GX Aviation milik Inmarsat di berbagai ketinggian, sudut, serta kecepatan jelajah di bermacam kondisi cuaca, baik di atas daratan maupun lautan.

Saat ini, Honeywell masih mengujinya pada sekitar 20 jenis pesawat yang berbeda, bekerja sama dengan beberapa maskapai, mulai dari pesawat angkut komersil hingga jet pribadi. (SUMBER)

0 comments: